Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) merupakan salah satu departemen baru di IPB dengan mandat keilmuan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi di bidang keluarga dan konsumen untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga dengan memfokuskan pada pengembangan kualitas anak serta pemberdayaan keluarga dan konsumen.  Walaupun secara historis, pengembangan Departemen IKK berakar pada bagian atau Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga (yang juga disingkat IKK), Departemen IKK yang baru sangat berbeda dengan Departemen IKK yang lama.  Departemen IKK lama telah berkembang menjadi Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) dan kemudian berkembang lagi menjadi Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen IKK baru.  Hal yang sama dari departemen IKK baru dan lama adalah pada perhatian yang besar terhadap aspek kesejahteraan keluarga. Departemen IKK menggunakan pendekatan ilmu yang berbeda dengan Departemen IKK yang lama, walaupun dengan misi yang sama untuk mengkaji perilaku keluarga dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang diinginkan.  Penggunaan pendekatan ilmu yang baru ini sesuai dengan perkembangan ilmu yang terjadi.  Ilmu dasar yang diperlukan untuk memahami bidang kajian keluarga dan konsumen meliputi: psikologi, sosiologi, komunikasi, manajemen dan ekonomi.  Sesuai dengan SK Rektor tahun 2005 Departemen IKK memiliki mandat untuk pengembangan ilmu dan teknologi di bidang keluarga dan konsumen untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga dengan menfokuskan pada pengembangan kualitas anak serta pemberdayaan keluarga dan konsumen.

Adapun visi Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen adalah menjadi program studi terkemuka di Indonesia, Asia, maupun dunia Internasional yang mampu mencetak ilmuwan dan praktisi di bidang ilmu keluarga dan konsumen yang memiliki dedikasi tinggi terhadap peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Misi Departemen IKK adalah:

  • Menghasilkan lulusan yang mampu bersaing secara nasional dan global dalam penguasaan iptek bidang keluarga dan konsumen.
  • Menghasilkan penelitian-penelitian yang berkualitas bagi pengembangan iptek bidang keluarga dan konsumen.
  • Menghasilkan pemikiran-pemikiran inovatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, ketangguhan konsumen dan kualitas sumberdaya manusia, khususnya kualitas tumbuh kembang anak.

Sampai pada saat ini, para lulusan Departemen IKK akan dapat bekerja di :
1.    Perusahaan jasa konsultan di bidang keluarga, tumbuh kembang anak dan pemberdayaan wanita
2.    Pendidik dan pengelola pendidikan anak usia dini dan anak usia sekolah
3.    Tenaga akademik dan peneliti di bidang keluarga, tumbuh kembang anak dan konsumen
4.    Spesialis riset pemasaran dan konsumen, serta  penanganan pelayanan konsumen
5.    Pemerintahan dalam bidang pemberdayaan keluarga dan konsumen serta tumbuh kembang anak
6.    Lembaga Swadaya Masyarakat

Perubahan global, trend industrialisasi, swastanisasi telah menyebabkan transformasi pada institusi sosial, komunitas dan nila-nilai sosial yang menjadi identitas bangsa. Perubahan-perubahan sosial budaya, ekonomi dan politik yang begitu cepat pada era globalisasi ini telah memberi tekanan baik ekonomi, sosial dan psikologi pada individu dan institusi keluarga. Proses globalisasi tersebut secara garis besar telah memberikan dampak positif maupun negatif bagi kehidupan keluarga.

Perkembangan ekonomi dan teknologi membawa pengaruh pada pergeseran nilai – nilai individu mauipun berkeluarga baik yang berkaitan dengan prinsip – prinsip hidup, nilai – nilai keluarga, dan nilai- nilai kebersamaan. Perkembangan tersebut berpengaruh pada pandangan terhadap nilai – nilai gender yang berakibat pada semakin meningkatnya kontribusi perempuan pada aktivitas sektor publik. Pergeseran nilai – nilai individu tercermin dari kesadaran bahwa peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan adalah sama meskipun secara biologis mempunyai perbedaan. Perempuan tidak satu-satunya aktor yang bertanggung jawab pada pekerjaan domestik, namun sudah menjadi tanggung jawab bersama dengan laki-laki. Pergeseran nilai keluarga tercermin dari meningkatnya kemitraan gender dalam menjalankan fungsi ekonomi keluarga yang ditunjukan dengan saling dukungan dalam generating income keluarga.

Pengasuhan yang responsif gender adalah perlakuan sosialisasi dan pendidikan orang tua terhadap anak yang memberikan perhatian pada anak laki-laki maupun perempuan berdasarkan kebutuhan khusus dan kebutuhan umum yang berkaitan dengan kebutuhan psikososial dengan menjunjung keadilan dan kesetaraan gender dalam memperoleh akses, manfaat, partisipasi, control terhadap semua sumber daya keluarga untuk mewujudkan sumber daya manusia yang sehat jasmani dan rohani.

Kewajiban dan tanggung jawab orang tua dalam melakukan melakukan perlindungan dan pengasuhan dapat dialihkan pada keluarga luas atau orang tua alternatif apabila orang tua kandung tidak ada, tidak diketahui keberadaannya, atau tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi anak tanpa diskriminasi. Era millenium yang sedang berlangsung saat ini telah membawa perubahan secara global diseluruh dunia, yang ditandai dengan meningkatkan perubahan gaya hidup masyarakat sebagai akibat dari adanya perkembangan teknologi informatika dan transportasi. Perkembangan teknologi dan perubahan sosial budaya masyarakat berdampak pada pergeseran nilai – nilai budaya konvensional ke arah keluarga kontemporer.

Teori struktural dan fungsional yang menyangkut urusan aturan, peran, fungsi dan tanggung jawab para anggota kelurga, menempatkan orang tua pada fungsi dan peran sebagai pelindung, pemimpin bagi anaknya dengan tanggung jawab untuk menjaga kesehatan anak, merawat anak sejak dalam kandungan, mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak, kemudian menstimulasi kemampuan, bakat dan minat anak agar dapat tumbuh kembang secara optimal. Orang tua memang tidak dapat menentukan sepenuhnya perkembangan afektif, kognitif maupun psikomotorik dan pembentukan kepribadian anak, karena berdasarkan pendekatan konsep ekologi, outcome perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai pihak, yaitu sistem keluarga, sistem sekolah, sistem masyarakat dan sistem pemerintah.

Gaya pengasuhan paradigma baru yang cocok dan sesuai dengan tuntutan perubahan zaman yaitu pengasuhan anak yang responsif gender, khususnya pada tahapan remaja yang sedang mencari identitas diri agar terhindar dari pengaruh negatif dari lingkungan. Tuntutan praktek pengasuhan anak responsif gender merupakan solusi yang tepat pada saat ini dalam mengantisipasi perubahan lingkungan baik ekso maupun makro dari berbagai aspek sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan perubahan alam berdasarkan kemampuan potensi individu, kebutuhan khusus yang berkaitan dengan aspek biologis, dan kebutuhan umum yang berkaitan dengan aspek psikososial. Dalam rangka mempersiapkan anak mencapai kemandirian dengan sumber daya manusia yang berkualitas dikemudian hari, maka diperlukan gaya pengasuhan yang tepat dan benar agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Peran orang tua pada pendidikan remaja, keterlibatan orangtua yang relatif baik terlihat dalam membimbing dan mengajarkan pekerjaan rumah serta mendorong agar anak giat belajar, dan memberi semangat anak jika mengalami kegagalan dalam ulangan baik pada laki-laki maupun perempuan. Pola asuh sosial proposi orang tua yang sering mendorong anaknya ikut dalam kegiatan organisasi lebih tinggi pada orang tua laki – laki dibandingkan orang tua perempuan. Namun demikian, proporsi orang tua yang mengabaikan anaknya ketika meminta bantuan juga lebih tinggi pada orang tua laki-laki dibandingkan orang tua perempuan. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa orang tua perempuan menerapkan pola asuh sosial yang baik dibandingkan orang tua laki – laki.

Pola asuh afeksi proporsi orang tua yang sering berbicara dengan hangat dan kasih sayang, serta berusaha membuat perasaan anaknya lebih baik pada saat terluka adalah relatif sama baik pada orang tua laki – laki maupun perempuan. Namun untuk pola asuh afeksi yang berkaitan dengan mengingatkan anaknya untuk menjaga kesehatan, bersikap tidak peduli atau acuh, dan membuat perasaan tidak menyenangkan berada di dekat orang tua adalah lebih tinggi terjadi pada orang tua laki – laki dibandingkan dengan orang tua perempuan. Sebaliknya, pola asuh afeksi yang berkaitan dengan memperhatikan kelayakan berpakaian, dan membiarkan saja ketika sedang sedih dan menangis adalah lebih tinggi terjadi pada orang tua perempuan dibandingkan dengan orang tua laki – laki. Sehingga menunjukan bahwa pola asuh afeksi orang tua perempuan lebih baik dari orang tua laki – laki.

Pola asuh disiplin perempuan menunjukan proporsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi laki – laki, pada pernyataan – pernyataan bahwa orang tuanya cukup sering mengajarkan untuk menabung, mematuhi berbagai jadwal yang telah ditetapkan, mengawasi perbuatan, meminta maaf bila berbuat salah, dan menegur bila berbuat salah. Sedangkan orang tua yang cukup menghukum berat berat, memarahi dengan berteriak dan kasar lebih banyak dilaporkan oleh laki – laki dibandingkan perempuan. Jadi diketahui bahwa pola asuh disiplin orang tua perempuan adalah lebih baik dibandingkan dengan laki – laki.

Pola asuh interaksi, beberapa hal yang dapat mendukung terhadap peningkatan pengasuhan terutama dalam hal interaksi antara orang tua dan anak seperti sering mempunyai waktu luang untuk berbincang – bincang, orang tua selalu ada jika dibutuhkan memperbaiki sikap dan perilaku yang dianggap kurang baik, membicarakan hal – hal pribadi, penuh pengertian, dan memarahi bila tidak mematuhi perintahnya adalah lebih banyak dilaporkan oleh perempuan dibandingkan dengan laki – laki. Sebaliknya lebih banyak laki – laki yang melaporkan bahwa orang tuanya sering tidak menghiraukan ketika sedang berbicara, tidak memberi jalan keluar bila diminta pertimbangan, sering berbicara seperlunya, dan sering memarahi serta berbicara kasar dibandingkan perempuan. Sehingga diketahui bahwa kualitas pola asuh interaksi dan perempuan adalah lebih baik dibandingkan dibandingkan dengan laki – laki.

Selanjutnya, apabila pola asuh adalah merupakan komposit variable dari pola asuh sosial, pola asuh afeksi, pola asuh disiplin, dan interaksi orang tua dan anak, maka diketahui bahwa secara umum kualitas pola asuh orang tua perempuan adalah lebih baik dibandingkan dengan laki – laki.

Pengasuhan ayah berdasarkan analisis gender, bahwa proporsi laki – laki adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ayahnya terhadap anaknya untuk perilaku menanyakan pendapat, mendengarkan dengan cermat dan mencintai dengan hangat dibandingkan dengan perempuan. Sedangkan proporsi perempuan adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan ayahnya terhadap anaknya untuk perilaku memberitahu kalau peduli, membantu mengerjakan sesuatu, tertawa bersama, dan mengatakan cinta dibandingkan dengan laki – laki. Adapun perliaku ayah yang bersifat kekerasan dan kekerasan terhadap anaknya lebih tinggi terjadi pada laki – laki untuk semua butir pernyataan dibandingkan dengan perempuan.

Pengasuhan ibu berdasarkan analisis gender, bahwa proporsi perempuan adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya untuk semua pernyataan. Adapun perilaku ibu yang bersifat kekerasan dan kekerasan terhadap anaknya lebih tinggi terjadi pada laki – laki untuk hampir semua butir pernyataan dibandingkan dengan perempuan, kecuali perilaku marah – marah, mengkritik, dan bertengkar pada anaknya.

Hubungan dan perilaku antara :

    • Ayah dan anak laki-laki : laki-laki melaporkan adanya perilaku kepedulian ayah terhadap dirinya adalah yang terendah dibandingkan butir-butir kehangatan lainnya seperti mencintai, menghargai, dan membantu.
    • ayah dan anak perempuan : perempuan melaporkan adanya hubungan antara dirinya dan ayahnya lebih tinggi dibandingkan dengan ibunya.
    • ibu dan anak laki-laki : laki-laki melaporkan adanya kepuasan hubungan antara dirinya dengan ibunya yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayahnya.
    • ibu dan anak perempuan : perempuan melaporkan bahwa perilaku ibu dalam membantu dirinya adalah yang terendah dibandingkan butir-butir dimensi kehangatan lainnya.

    Peran utama orang tua dalam hal ini adalah interaksi dengan anaknya untuk mewujudkan hubungan diadik atau hubungan timbal balik yang baik antara keduanya. Hubungan diadik antara orang tua dan anak merupakan dasar dari kualitas hubungan antara anggota keluarga yang membuat setiap anggota keluarga merasa puas dan bahagia dalam hidupnya.

    Pada dimensi kehangatan, bahwa laki-laki melaporkan adanya perilaku kepedulian ayah terhadap dirinya adalah yang terendah dibandingkan butir-butir dimensi kehangatan lainnya seperti mencintai, menghargai dan membantu. Namun demikian, laki – laki melaporkan adanya kepuasan hubungan antara dirinya dengan ibunya yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayahnya. Sedangkan perempuan melaporkan bahwa perlakuan ibu dalam membantu dirinya adalah yang terendah dibandingkan butir – butir dimensi kehangatan lainnya, namun melaporkan adanya kepuasan hubungan antara dirinya dan ayahnya leibh tinggi dibandingkan dengan ibunya. Anak perempuan cenderung mempunyai keeratan hubungan diadik yang lebih tinggi dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya. Sedangkan anak laki – laki mempunyai hubungan diadik sedikit lebih baik dengan ibunya dibanding dengan ayahnya, maka didapatkan hasil bahwa laki-laki maupun perempuan mempunyai kecenderungan yang sama dalam hal keeratan hubungan dengan orang tua. Hubungan perilaku kehangatan ibu dan anak mempunyai keeratan yang lebih tinggi dengan kenakalan pelajar pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

    Hubungan timbal balik dimensi kehangatan antara orang tua dan anak dimana terjadi pada anak perempuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Anak perempuan mempunyai hubungan yang lebih hangat dengan orang tuanya, untuk mewujudkan kualitas interaksi yag lebih baik dibandingkan dengan laki-laki. Disamping itu anak permpuan cenderung mempunyai keeratan hubungan diadik yang lebih tinggi dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya, sedangkan laki-laki mempunyai hubungan diadik yang sedikit lebih baik dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya.

    Berkaitan dengan korelasi antara interaksi dalam keluarga dan variabel-variabel lainnya, maka didapatkan hasil bahwa laki-laki mapun perempuan mempunyai kecenderungan yang sama dalam hal keeratan hubungan dengan orang tuanya. Apabila hubungan anak dengan ayah didasari oleh perilaku kehangatan yang tinggi, maka cenderung untuk mempunyai hubungan dengan ibu yang didasari oleh perilaku kehangatan yang tinggi pula. Hasil menunjukan bahwa interaksi dalam keluarga baik pada anak laki-laki maupun perempuan lebih erat kaitannya dengan kedekatan antara ayah dan anak, dibandingkan dengan kedekatan antara ibu dan anak. Sepertinya kedekatan antara anak dan ibu sudah secara alamiah, normal atau standar dan biasa terjadi, namun kedekatan antara anak dan ayah adalah yang luar biasa menjadi penentu kualitas interaksi interaksi dalam keluarga.

    Hasil menunjukan bahwa perilaku kehangatan ibu dan anak mempunyai keeratan yang lebih tinggi dengan kenakalan pelajar pada laki-laki dibandingkan perempuan. Ada kecenderungan bahwa bila anak mendapatkan perlakuan kehangatan dari ayahnya terlalu banyak justru cenderung untuk menurunkan prestasi belajarnya, sebaliknya kalau anak mendapatkan kehangatan dari ibunya terlalu tinggi maka anak cenderung mempunyai prestasi belajar yang membaik.

    Pada dimensi kekerasan, hasil menunjukan bahwa laki-laki melaporkan adanya perilaku kekerasan antara orang tua dan dirinya yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Disini terlihat adanya agresivitas hubungan antara orang tua dan anak laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Selanjutnya baik anak laki – laki maupun perempuan menunjukan adanya bukti yang nyata, bahwa perilaku kekerasan dari orang tua ke anak akan memberikan akibat negatif pada kualitas hubungan antara keduanya. Artinya bahwa perilaku kekasaran orang tua terhadap anaknya yang kemudian direspon dengan perilaku kasar dari anak kepada orang tuanya akan membawa pada konsekuensi tingginya tensi kemarahan antara orang tua dan anak yang selanjutnya menimbulkan perasaan ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan antara keduanya.

    Apabila hubungan anak dengan ayah didasari oleh perilaku kekasaran yang tinggi, maka cenderung untuk mempunyai perilaku kekasaran yang tinggi pula pada ibunya. Hasil yang mengejutkan adalah respon agresivitas perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yang tercermin dari nilai validasi konstruk yang lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Secara garis besar diketahui bahwa pada anak yang mengalami perilaku kekasaran antara dirinya dengan orang tuanya maka akan mempunyai kualitas interaksi yang rendah antara keduanya. Anak laki-laki mempunyai kecenderungan untuk mempunyai kualitas interaksi yang lebih memburuk apabila perilaku kekasaran lebih datang dari pihak ibu dibandingkan dari pihak ayah. Sedangkan pada anak perempuan mempunyai kecenderungan untuk mempunyai kualitas interaksi yang lebih memburuk apabila perilaku kekasaran lebih datang dari pihak ayah dibanding dari pihak ibu. Jadi adanya persilangan hubungan antara jenis kelamin dalam membentuk kualitas hubungan kekeluargaan.

    Perempuan maupun laki-laki melaporkan adanya keeratan hubungan antara dirinya dan ibunya yang apabila didasari oleh perilaku kekasaran akan meningkatkan tindakan kenakalan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perilaku kekasaran yang dilakukan oleh ayahnya. Selanjutnya, diketahui bahwa perilaku kekasaran ibu dan anak berhubungan lebih erat dengan nilai raport baik pada anak laki-laki mapun perempuan dibandingkan dengan perilaku kekasarn yang dilakukan oleh ayahnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keeratan hubungan antara anak dan ibunya yang didasari oleh perilaku kekasaran akan lebih menurunkan prestai belajar dibandingkan dengan perilaku kekasaran yang dilakukan oleh ayahnya. Secara garis besar didapatkan hasil bahwa hasil kedekatan hubungan antara anak dengan ibu lebih menggambarkan validasi konstruk yang lebih tinggi dibandingkan kedekatan hubungan antara anak dengan ayah apabila dikaitkan dengan kenakalan pelajar dan prestasi belajar anak.

    Jenis kenakalan pelajar laki-laki dan perempuan :

    a. Kenakalan umum adalah perilaku penyimpangan dari norma yang merugikan diri sendiri namun masih belum melanggar hukum formal seperti: bolos sekolah tanpa penjelasan, berpesta pora sampai malam ,duduk di pinggir jalan mengganggu orang, menggoda perempuan atau laki-laki dijalanan, minggat dari rumah, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menyontek, tidak membayar SPP karena terpakai, terlambat sekolah, dan merokok.

    Hasil menunjukan bahwa perbuatan kenakalan umum lebih banyak dilakukan oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Laki- laki mendominasi kenakalan umum seperti membolos sekolah tanpa penjelasan, berpesta pora sampai malam, duduk dipinggir jalan sambil mengganggu orang, menggoda wanita di jalanan, minggat dari rumah dan merokok. Perempuan banyak melakukan kenakalan umum seperti bolos sekolah tanpa penjelasan, berpesta pora sampai malam, minggat dari rumah dan merokok

    b. Kenakalan kriminal adalah perilaku penyimpangan dari norma dan bahkan melanggar hukum formal yang merugikan diri sendiri dan merugikan serta menyakiti dan menimbulkan korban fisik berat kepada orang lain seperti berkelahi, narkoba, minuman beralkohol, membawa senjata, mencuri barang, memukul dan menyerang dengan sennjata, melakukan hubungan seks diluar nikah, mencoret-coret tembok milik umum atau orang lain, secara sengaja merusak benda milik orang lain, bergerombol saat pulang atau pergi ke sekolah, memukul seseorang sampai terluka, memukul seseorang dengan senjata, membawa senjata tajam ke sekolah.

    Hasil menunjukan bahwa beberapa responden memiliki masalah dalam perilaku sosial khususnya dalam kenakalan kriminal. Kondisi ini cukukp mengkhawatirkan karena dapat merugikan, baik bagi dirinya sendiri, sekolah dan juga bagi keluarganya. Berdasarkan analisis data terdapat contoh yang memiliki kebiasaan minum-minuman beralkohol dan menggunakan narkoba. Akibat dari kebiasaan-kebiasaan ini maka muncul berbagai masalah dengan keluarga, sekolah, dan teman-teman. Salah satu masalah yang dirasakan oleh mereka adalah merasa dikucilkan karena kebiasaan tersebut. Bahkan menurut laporan mereka pernah ditangkap polisi karena berkelahi, narkoba, dan mabuk. Mereka ditangkap polisi karena terkena razia dan melanggar hukum. Kenakalan kriminal lain yang dilakukan dan cukup membahayakan adalah memukul seseorang sampai terluka, memukul seseorang dengan senjata dan membawa senjata tajam ke sekolah.

    Kenakalan lainnya yaitu mencuri barang, mengendarai motor atau mobil milik orang lain tanpa permisi dan pernah menggunakan senjata atau kekuatan untuk mendapatkan uang atau barang dari orang lain. Hasil juga menunjukan bahwa mereka pernah melakukan hubungan seks bebas diluar nikah dengan frekuensi hampir tiap hari, maksimum tiga kali per minggu dan satu kali per bulan.

    Proses kenakalan pelajar terdapat tiga pintu gerbang untuk melakukan perbuatan kenakalan yang lebih tinggi, yaitu :

    a)    Terlambat sekolah yang dikarenakan oleh nongkrong di jalan, pergi keluyuran, atau sekedar iseng – iseng melakukan sesuatu yang mengganggu kelancaran proses belajar di sekolah

    b)    Menyelewengkan uang spp untuk membiayai perilaku yang tidak sejalan dengan kegiatan proses belajar dan berbohong kepada orang tua.

    c)    Merokok yang membutuhkan biaya cukup besar dan diambil dari uang spp dan kemudian ketagihan untuk merokok setiap hari.

    Dari terlambat pergi ke sekolah anak akan nongkrong di jalanan daan menggoda lawan jenis kemudian terlambat pulang ke rumah dan berbohong. Dari perilaku penyelewengan uang SPP, anak akan berbohong, mencoba untuk merokok, kemudian menjadi kecanduan dan akhirnya mencoba narkoba dan meminum minuman keras yang menimbulkan pesta/kumpul sampai malam dan pergi/main keluyuran  hingga terjadi seks bebas, kemudian dia membutuhkan uang karena ketagihan, hingga akhirnya berani memalak, mencuri barang sampai terjadinya tawuran/berkelahi dengan membawa senjata tajam.

    Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang/ organisasi dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen akan diperlihatkan dalam beberapa tahap yaitu tahap sebelum pembelian, pembelian, dan setelah pembelian. Pada tahap sebelum pembelian konsumen akan melakukan pencarian informasi yang terkait produk dan jasa. Pada tahap pembelian, konsumen akan melakukan pembelian produk, dan pada tahap setelah pembelian, konsumen melakukan konsumsi (penggunaan produk), evaluasi kinerja produk, dan akhirnya membuang produk setelah digunakan.

    Konsumen dapat merupakan seorang individu ataupun organisasi, mereka memiliki peran yang berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan sebagai initiator, influencer, buyer, payer atau user.

    Dalam upaya untuk lebih memahami konsumennya sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, perusahaan dapat menggolongkan konsumennya ke dalam kelompok yang memiliki kemiripan tertentu, yaitu pengelompokan menurut geografi, demografi, psikografi, dan perilaku.

    Perilaku Konsumen sebagai Sebuah Studi

    yaitu lebih spesifik lagi bidang pemasaran. Studi tentang perilaku konsumen merupakan integrasi antara berbagai bidang ilmu, yaitu ekonomi, sosiologi, antropologi, dan psikologi. Seiring dengan perkembangan zaman, studi perilaku konsumen ini juga makin berkembang.

    Studi perilaku konsumen muncul seiring dengan berkembangnya konsep pemasaran, yang merupakan cara pandang pemasar dalam menghadapi konsumen dan pesaingnya, di mana pemasar berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen secara lebih efektif dari para pesaingnya. Tujuannya adalah memperoleh kepuasan pelanggan. Sehingga ilmu perilaku konsumen dibutuhkan untuk mengidentifikasi apa kebutuhan dan keinginan konsumen dan pelanggan tersebut sehingga pemasar mampu menyusun dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang tepat untuk karakteristik konsumen yang menjadi target pasar.

    Pemahaman tentang konsumen ini diperoleh pemasar melalui penelitian-penelitian perilaku konsumen sehingga dapat dipertanggung-jawabkan kebenaran informasi yang terima dan digunakan dalam penyusunan strategi pemasaran.
    Perilaku Konsumen dan Strategi

    Perilaku konsumen terkait dengan strategi pemasaran, di mana pemasaran harus mampu menyusun kriteria pembentukan segmen konsumen, kemudian melakukan pengelompokan dan menyusun profil dari konsumen tersebut. Kemudian, pemasar memilih salah satu segmen untuk dijadikan pasar sasaran. Dan setelah itu, pemasar menyusun dan mengimplementasikan strategi bauran pemasaran yang tepat untuk segmen tersebut.

    Studi tentang perilaku konsumen juga tidak terlepas pada masalah riset pemasaran. Riset pemasaran adalah salah satu perangkat dalam Sistem Informasi Manajemen (SIM), yang melakukan pengumpulan informasi tentang sikap, motivasi, keinginan, dan hal-hal lainnya tentang konsumen. Informasi ini digunakan sebagai dasar bagi pembentukan karakteristik dari segmen konsumen sehingga konsumen dapat dikelompokkan dan diidentifikasikan, dan dapat dibedakan dari segmen lainnya.

    Motivasi

    Motivasi sebagai tenaga dorong dalam diri individu yang memaksa mereka untuk bertindak, yang timbul sebagai akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan. Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan.

    Untuk memahami kebutuhan manusia, Teori Maslow dan McClelland menggambarkan bahwa manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang berbeda sehingga hal ini dapat digunakan pemasar untuk mendorong konsumsi suatu produk dan atau jasa.

    Persepsi

    Persepsi didefinisikan sebagai proses yang dilakukan individu untuk memilih, mengatur, dan menafsirkan stimuli ke dalam gambar yang berarti dan masuk akal mengenai dunia, yaitu proses “bagaimana kita melihat dunia di sekeliling kita”. Stimuli ini diterima oleh alat pancaindra manusia. Stimuli mana yang akan diproses tergantung dari apakah stimuli dapat masuk ke dalam proses untuk menginterpretasikannya. Untuk dapat masuk ke dalam proses interpretasi suatu stimuli harus mampu mengekspos manusia (mendapat perhatian) melalui indra penerimaan, artinya harus diperhatikan ambang penerimaan stimuli manusia. Setelah stimuli diterima maka proses interpretasi dapat dilakukan yang terkait dengan faktor individu

    Sikap

    Terdapat beberapa pengertian sikap yang disampaikan oleh para ahli. Intinya sikap adalah perasaan dari konsumen (positif dan negatif) dari suatu objek setelah dia mengevaluasi objek tersebut. Semakin banyak objek yang dievaluasi akan semakin banyak sikap yang terbentuk.

    Sikap memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi penyesuaian, ego defensive, ekspresi nilai, dan pengetahuan. Untuk lebih memahami sikap perlu dipahami beberapa karakteristik sikap, diantaranya memiliki objek, konsisten, intensitas dan dapat dipelajari.

    Model dan Teori Sikap

    Perkembangan teori tentang sikap sudah sangat maju. Sikap juga dapat digambarkan dalam bentuk model. Model tradisional menggambarkan pengaruh informasi dari lingkungan luar pribadi seseorang, di mana informasi tersebut akan diolah dengan menggunakan elemen internal dari seseorang, untuk menghasilkan sikap terhadap objek. Model analisis konsumen menyebutkan bahwa sikap terdiri dari komponen perasaan (affect) dan kognitif, perilaku, serta lingkungan. Model tiga komponen dan model ABC menyatakan bahwa sikap konsumen dibentuk oleh faktor kognitif, afektif, dan konatif (perilaku atau kecenderungan untuk berperilaku). Teori kongruitas menggambarkan pengaruh antara dua jenis objek, di mana kekuatan satu sama lain dapat saling mempengaruhi persepsi konsumen. Dan model terakhir adalah model Fishbein yang merupakan kombinasi dari kepercayaan objek terkait dengan atribut dan intensitas dari kepercayaan tersebut. Model Fishbein ini kemudian dimodifikasi dengan menambahkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku dan norma subjektif.

    Pembentukan Sikap

    Sikap yang terbentuk biasanya didapatkan dari pengetahuan yang berbentuk pengalaman pribadi. Sikap juga dapat terbentuk berdasarkan informasi yang diterima dari orang lain, yang memiliki pengaruh. Kelompok juga menjadi sumber pembentukan sikap yang cukup berpengaruh.

    Alur pembentukan sikap dimulai ketika seseorang menerima informasi tentang produk atau jasa. Informasi tersebut, kemudian dievaluasi dan dipilah, berdasarkan kebutuhan, nilai, kepribadian, dan kepercayaan dari individu. Sehingga terjadilah pembentukan, perubahan atau konfirmasi dalam kepercayaan konsumen terhadap produk, serta tingkat kepentingan dari tiap atribut produk terhadap dirinya atau terhadap kebutuhannya saat ini. Hasil akhirnya adalah terbentuknya sikap dari individu terhadap suatu objek (produk, jasa atau hal lainnya). Tingkat komitmen dari pembentukan sikap beragam, mulai dari compliance, identification, sampai kepada internalization. Dalam prinsip konsistensi sikap, terdapat harmoni antara pemikiran, perasaan, dan perbuatan, yang cenderung menimbulkan usaha untuk menciptakan keseimbangan antara ketiganya. Adanya disonansi antara elemen sikap dan perilaku dapat direduksi dengan menghilangkan, menambah atau mengubah keduanya (teori disonansi kognitif). Teori persepsi diri menyatakan bahwa sikap dapat ditentukan dari perilaku yang diobservasi. Adanya penerimaan dan penolakan pesan berdasarkan standar yang dibentuk dari sikap sebelumnya terdapat dalam teori penilaian sosial.

    Perubahan Sikap

    Strategi perubahan sikap dapat dilakukan baik terhadap produk dengan keterlibatan tinggi, maupun untuk produk dengan tingkat keterlibatan rendah. Usaha mengarahkan audiens untuk produk dengan keterlibatan rendah ditempuh dengan mentransformasi situasi ke arah keterlibatan konsumen yang tinggi. Adapun strategi perubahan sikap konsumen terhadap produk atau jasa tertentu dilakukan dengan menggunakan saluran komunikasi persuasif, yang mengikuti alur proses komunikasi yang efektif. Pemasar harus mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan dapat menyebabkan perubahan sikap dari penerima pesan atau konsumen. Faktor sumber, pesan, dan penerima pesan dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan sikap dan tentunya perubahan perilaku positif dari konsumen yang diharapkan oleh pemasar. Kredibilitas dari sumber pesan menjadi fokus dari komunikasi persuasif. Dalam mengelola pesan, yang harus diperhatikan adalah struktur, urutan, dan makna yang terkandung dalam pesan. Karakteristik dari penerima pesan, yang meliputi kepribadian, mood, dan jenis kepercayaan yang dimiliki juga menjadi faktor penentu keberhasilan komunikasi persuasif.

    Kepribadian

    Konsep kepribadian (personality) dibahas secara teoretis oleh para pakar melalui berbagai sudut pandang yang beraneka ragam, diantaranya menekankan pembahasan kepribadian pada pengaruh sosial dan lingkungan terhadap pembentukan kepribadian secara kontinu dari waktu ke waktu, serta menekankan pada pengaruh faktor keturunan dan pengalaman di awal masa kecil terhadap pembentukan kepribadian.

    Tiga karakteristik yang perlu dibahas dalam pembahasan mengenai kepribadian adalah kepribadian mencerminkan perbedaan antarindividu, kepribadian bersifat konsisten dan berkelanjutan, dan kepribadian dapat mengalami perubahan.

    Dalam mempelajari kaitan antara kepribadian dan perilaku konsumen, 3 teori kepribadian yang sering digunakan sebagai acuan adalah teori Freudian, Neo Freudian dan teori traits.

    Teori Freudian yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud, mengungkapkan teori psychoanalytic dari kepribadian yang menjadi landasan dalam ilmu psikologi. Berdasarkan teori Freud, kepribadian manusia terdiri dari 3 bagian atau sistem yang saling berinteraksi satu sama lain. Ketiga bagian tersebut adalah id, superego dan ego. Teori kepribadian Neo-Freudian mengemukakan bahwa faktor utama yang mempengaruhi pembentukan kepribadian manusia bukan dari dirinya sendiri, tetapi dari hubungan sosial. Berdasarkan teori trait, kepribadian diukur melalui beberapa karakteristik psikologis yang bersifat spesifik yang disebut dengan trait. Salah satu tes yang dikenal adalah selected single- trait personality.

    Dalam pemahaman mengenai berbagai karakteristik konsumen yang mempengaruhi perilaku mereka dalam melakukan pembelian, beberapa diantaranya adalah keinovatifan konsumen, faktor kognitif konsumen, tingkat materialisme konsumen, dan ethnocentrism konsumen.

    Selain product personality, konsumen juga mengenal brand personality, di mana mereka melihat perbedaan trait pada tiap produk yang berbeda juga. Semua kesan yang berhasil ditampilkan oleh merek tersebut dalam benak konsumen menggambarkan bahwa konsumen dapat melihat karakteristik tertentu dari produk, kemudian membentuk brand personality.

    Konsep Diri

    Konsep diri adalah bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri yang kadang-kadang akan berbeda dari pandangan orang lain. Konsep diri konsumen terbagi ke dalam 4 dimensi, yaitu bagaimana mereka sesungguhnya melihat dirinya sendiri, bagaimana mereka ingin melihat diri mereka sendiri, bagaimana sesungguhnya orang lain melihat diri mereka, dan bagaimana mereka ingin orang lain melihat diri mereka.

    Bagaimana konsumen memandang diri mereka dapat menjadi dorongan yang kuat pada perilaku mereka di pasar sehingga pemasar dapat menggunakan konsep diri ini dalam merancang strategi pemasaran, misalnya dalam menciptakan merek atau produk baru.

    Extended self merujuk pada kecenderungan seseorang untuk mendefinisikan dirinya sendiri berdasarkan kepemilikannya (possession). Kepemilikan yang dimaksud di sini tidak harus sesuatu yang besar, seperti rumah atau mobil, tetapi dapat berupa benda-benda kecil, seperti pigura. Penelitian memperlihatkan, konsumen cenderung untuk memilih produk atau merek yang sesuai dengan dirinya atau dengan apa yang ingin dicapainya sebagai manusia. Lebih banyak wanita daripada pria yang menganggap bahwa produk yang mereka gunakan mencerminkan kepribadiannya sendiri.

    Pemasar sebaiknya mengembangkan citra produk sedemikian rupa sehingga sesuai dengan konsep diri yang dianut oleh konsumen. Meskipun konsep diri yang dimiliki seseorang bersifat sangat unik, ada kemungkinan konsep diri antar individu memiliki beberapa kemiripan.

    Gaya Hidup

    Gaya hidup merupakan pola hidup yang menentukan bagaimana seseorang memilih untuk menggunakan waktu, uang dan energi dan merefleksikan nilai-nilai, rasa, dan kesukaan. Gaya hidup adalah bagaimana seseorang menjalankan apa yang menjadi konsep dirinya yang ditentukan oleh karakteristik individu yang terbangun dan terbentuk sejak lahir dan seiring dengan berlangsungnya interaksi sosial selama mereka menjalani siklus kehidupan.

    Konsep gaya hidup konsumen sedikit berbeda dari kepribadian. Gaya hidup terkait dengan bagaimana seseorang hidup, bagaimana menggunakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu mereka. Kepribadian menggambarkan konsumen lebih kepada perspektif internal, yang memperlihatkan karakteristik pola berpikir, perasaan dan persepsi mereka terhadap sesuatu.

    Gaya hidup yang diinginkan oleh seseorang mempengaruhi perilaku pembelian yang ada dalam dirinya, dan selanjutnya akan mempengaruhi atau bahkan mengubah gaya hidup individu tersebut.

    Berbagai faktor dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang diantaranya demografi, kepribadian, kelas sosial, daur hidup dalam rumah tangga. Kasali (1998) menyampaikan beberapa perubahan demografi Indonesia di masa depan, yaitu penduduk akan lebih terkonsentrasi di perkotaan, usia akan semakin tua, melemahnya pertumbuhan penduduk, berkurangnya orang muda, jumlah anggota keluarga berkurang, pria akan lebih banyak, semakin banyak wanita yang bekerja, penghasilan keluarga meningkat, orang kaya bertambah banyak, dan pulau Jawa tetap terpadat.

    Psikografi

    Psikografi adalah variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur gaya hidup. Bahkan sering kali istilah psikografi dan gaya hidup digunakan secara bergantian. Beberapa variabel psikografi adalah sikap, nilai, aktivitas, minat, opini, dan demografi. Analisis terhadap variabel-variabel psikografis telah banyak membantu pemasar untuk mengelompokkan konsumen berdasarkan kesamaan tertentu. Hal ini akan membantu penetapan strategi pemasaran agar sesuai dengan target konsumen.

    Pengukuran psikografi dapat dilakukan dalam tingkat kespesifikan yang berbeda-beda. Pada satu sisi ekstrem terdapat pengukuran yang bersifat umum yang menyangkut cara-cara umum dalam menjalani kehidupan. Pada satu sisi ekstrem lainnya adalah pengukuran terhadap variabel secara spesifik.

    Kebanyakan pengukuran yang dilakukan terhadap psikografis menggunakan variabel-variabel sikap, nilai, demografis dan geografis untuk mengelompokkan konsumen berdasarkan kesamaan-kesamaan tertentu. Pengelompokan yang dilakukan terhadap wanita Inggris menurut gaya hidup yang dicerminkan dari kosmetik yang digunakan, tempat membeli, usia serta kelas sosial menghasilkan 6 kelompok konsumen yaitu self aware, fashion-directed, green goodness, conscience-stricken, dan dowdies. Pengelompokan lainnya dikenal dengan sistem VALS (6 kelompok), MONITOR Mindbase Yankelovich (8 kelompok), Analisis Geo-Demographis (PRIZM) (8 kelompok), dan Global Scan (5 kelompok).
    Konsep Dasar Kelompok

    Kelompok merupakan kumpulan individu-individu yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya selama periode waktu tertentu untuk suatu kebutuhan atau tujuan bersama.

    Untuk dapat memahami karakteristik kelompok, perlu dipahami beberapa hal yang terkait dengan kelompok, yaitu status, norma, peran, sosialisasi, dan kekuasaan yang ada di dalam kelompok.

    Kekuasaan yang mempengaruhi kelompok ini dapat mempengaruhi perilaku anggotanya, diantaranya kekuasaan karena pemberian penghargaan/hadiah (reward power), kekuasaan karena paksaan melalui hukuman/sangsi (coercive power), kekuasaan yang sah (legitimate power), kekuasaan karena keahlian (expert power), dan kekuasaan karena perasaan/keinginan untuk menjadi anggota kelompok (referent power).

    Pengaruh Kelompok terhadap Perilaku Konsumen

    Kelompok referensi/acuan adalah individu/kelompok nyata atau khayalan yang memiliki pengaruh evaluasi, aspirasi, bahkan perilaku terhadap orang lain. Kelompok acuan (yang paling berpengaruh terhadap konsumen) mempengaruhi orang lain melalui norma, informasi, dan melalui kebutuhan nilai ekspresif konsumen.

    Pemasar harus dapat mengidentifikasi peran seseorang di dalam kelompoknya dalam pengambilan keputusan, dan harus menekankan pada si pengambil keputusan. Penyesuaian dilakukan hanya untuk sekadar menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok atau penyesuaian yang mengubah kepercayaan. Orang butuh untuk menilai opini dan kemampuan mereka dengan membandingkannya dengan opini dan kemampuan orang lain. Dalam polarisasi kelompok, perbedaan pandangan antara kelompok dengan individu, dan kelompok dapat berubah pandangannya dikarenakan informasi dan budaya yang ada.

    Kelompok acuan dapat berbentuk organisasi formal yang besar, terstruktur dengan baik, memiliki jadwal pertemuan rutin, dan karyawan-karyawan yang tetap. Di lain pihak, kelompok acuan juga dapat berbentuk kelompok kecil dan informal. Kelompok acuan terdiri dari orang-orang yang dikenal secara mendalam (seperti keluarga atau sahabat) atau orang-orang yang dikenal tanpa ada hubungan yang mendalam (klien) atau orang-orang yang dikagumi (tokoh atau artis). Karena orang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki kemiripan, mereka sering kali terpengaruh dengan mengetahui bagaimana orang lain menginginkan mereka menjalani hidup.

    Kecenderungan orang untuk menjadi bagian dari kelompok acuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah keakraban, ekspos terhadap seseorang (Mere Exposure), dan kepaduan kelompok.

    Terdapat beberapa bentuk kelompok acuan yang dapat mempengaruhi konsumen dalam perilaku konsumsi, yaitu kelompok pertemanan, kelompok belanja, kelompok kerja, komunitas maya dan kelompok aksi konsumen.

    Seorang pemberi opini ini adalah orang yang sering kali mampu mempengaruhi sikap atau perilaku orang lain. Opinion leader memiliki sumber informasi yang berharga. Yang biasanya menjadi opinion leader adalah artis, ahli atau pakar di bidang tertentu, orang awam (biasa), pimpinan perusahaan, dan karakter

    Keluarga

    Rumah tangga (a household) terdiri dari anggota yang terkait dengan keluarga (family) dan semua orang-orang yang tidak terkait yang berada dalam suatu unit tempat tinggal (baik itu rumah, apartemen, kelompok kamar-kamar, dan lain-lain). Rumah tangga dapat terdiri dari dua jenis/ bentuk: keluarga (families) dan non-keluarga (non families).

    Suatu keluarga mungkin merupakan suatu keluarga patriat (patriarchal family), di mana sang ayah dipertimbangkan sebagai anggota yang paling dominan, sedangkan dalam suatu keluarga matriat (matriarchal family), pihak wanita memainkan peran dominan, dan membuat banyak keputusan, sedangkan dalam equalitarian family, sang suami dan istri membagi secara seimbang pengambilan keputusan

    Keluarga memiliki struktur sendiri, seperti juga yang terjadi pada masyarakat, di mana setiap anggota memainkan perannya masing-masing. Bagi pemasar adalah penting untuk membedakan peran setiap anggota keluarga dalam tujuan untuk mengoptimalkan strategi pemasaran. Asumsi yang dibuat mengenai peran-peran pembelian harus dicek melalui riset konsumen sehingga pemasar dapat membuat bauran pemasaran yang tepat ditujukan terhadap individu yang tepat.

    Konsep siklus hidup keluarga atau rumah tangga telah terbukti sangat bermanfaat bagi pemasar, khususnya untuk aktivitas dari keluarga-keluarga seiring dengan berjalannya waktu. Dengan adanya konsep siklus hidup, pemasar mampu mengapresiasi kebutuhan keluarga, pembelian produk, dan sumber daya keuangan bervariasi sepanjang waktu.

    Siklus hidup keluarga modern didasarkan pada usia (dari individu wanita dalam rumah tangga, jika tepat), yang ditelusuri dalam kelompok-kelompok usia muda (young), usia menengah (middle aged). Dan kelompok usia lebih tua (elderly). Usia yang beragam ini dipengaruhi oleh dua bentuk peristiwa penting, yaitu (1) pernikahan dan pemisahan (baik karena perceraian atau kematian), dan (2) hadirnya anak pertama dan anak paling akhir.

    Kelas Sosial

    Kelas sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota masyarakat ke dalam suatu hierarki status kelas yang berbeda sehingga para anggota setiap kelas secara relatif mempunyai status yang sama`dan para anggota kelas lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah.

    Kategori kelas sosial biasanya disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status yang rendah sampai yang tinggi. Dengan demikian, para anggota kelas sosial tertentu merasa para anggota kelas sosial lainnya mempunyai status yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari pada mereka.

    Aspek hierarkis kelas sosial penting bagi para pemasar. Para konsumen membeli berbagai produk tertentu karena produk-produk ini disukai oleh anggota kelas sosial mereka sendiri maupun kelas yang lebih tinggi, dan para konsumen mungkin menghindari berbagai produk lain karena mereka merasa produk-produk tersebut adalah produk-produk “kelas yang lebih rendah”.

    Pendekatan yang sistematis untuk mengukur kelas sosial tercakup dalam berbagai kategori yang luas berikut ini: ukuran subjektif, ukuran reputasi, dan ukuran objektif dari kelas sosial.

    Peneliti konsumen telah menemukan bukti bahwa di setiap kelas sosial, ada faktor-faktor gaya hidup tertentu (kepercayaan, sikap, kegiatan, dan perilaku bersama) yang cenderung membedakan anggota setiap kelas dari anggota kelas sosial lainnya.

    Para individu dapat berpindah ke atas maupun ke bawah dalam kedudukan kelas sosial dari kedudukan kelas yang disandang oleh orang tua mereka. Yang paling umum dipikirkan oleh orang-orang adalah gerakan naik karena tersedianya pendidikan bebas dan berbagai peluang untuk mengembangkan dan memajukan diri.

    Dengan mengenal bahwa para individu sering menginginkan gaya hidup dan barang-barang yang dinikmati para anggota kelas sosial yang lebih tinggi maka para pemasar sering memasukkan simbol-simbol keanggotaan kelas yang lebih tinggi, baik sebagai produk maupun sebagai hiasan dalam iklan yang ditargetkan pada audiens kelas sosial yang lebih rendah.
    Budaya

    Dalam studi tentang budaya kita perlu memperhatikan karakteristik-karakteristik dari budaya itu sendiri, yaitu budaya itu ditemukan (invented), budaya dipelajari, budaya diyakini dan disebarluaskan secara sosial, budaya-budaya itu serupa tapi tidak sama, budaya itu memuaskan kebutuhan dan diulang-ulang secara konsisten (persistent), budaya bersifat adaptif, budaya itu terorganisasi dan terintegrasi, dan budaya itu dasar aturan (prescriptive).

    Nilai adalah ide umum tentang tujuan yang baik dan yang buruk. Dari alur norma atau aturan yang menjelaskan tentang yang benar atau yang salah, yang bisa diterima dan yang tidak. Beberapa norma dikatakan sebagai enacted norms, di mana maksud dari norma tersebut terlihat secara eksplisit, benar dan salah. Namun, banyak norma lain yang lebih halus, ini adalah crescive norm yang telah tertanam dalam budaya dan hanya bisa terlihat melalui interaksi antaranggota dalam budaya.

    Nilai-nilai budaya yang berlaku berbeda di setiap wilayah. Nilai yang berlaku di suatu Negara belum tentu berlaku di Negara atau bahkan bisa bertolak belakang dari nilai yang berlaku di Negara lain tersebut. Budaya mempengaruhi konsumen dalam sudut pandang terhadap dirinya dan orang lain, dan karenanya mempengaruhinya dalam berperilaku. Oleh karenanya, budaya sangat mempengaruhi bagaimana konsumen bereaksi atau berperilaku terhadap produk atau inovasi tertentu

    Subbudaya

    Subbudaya adalah grup budaya dalam cakupan berbeda, yang menggambarkan segmen yang teridentifikasi dalam masyarakat yang lebih besar atau sebuah kelompok budaya tertentu yang berbeda yang hadir sebagai sebuah segmen dalam sebuah masyarakat yang lebih besar dan kompleks.

    Analisa subbudaya memungkinkan manajer pemasaran untuk fokus dalam menentukan ukuran segmen pasar dan segmen pasar yang lebih natural. Subbudaya yang penting untuk diperhatikan adalah subbudaya kewarganegaraan, agama, lokasi geografis, ras, usia dan jenis kelamin (Schiffman dan Kanuk, 2004). Selain ketujuh hal tersebut, kelas sosial juga tergolong sebagai subbudaya karena kelas sosial akan mempengaruhi perilaku sebagai akibat dari keanggotaan pada kelas sosial tertentu, termasuk perilaku pada setiap kelas sosial masyarakat seluruh dunia.

    Perusahaan yang bergerak dalam pasar global memiliki kebutuhan untuk mengembangkan perencanaan penasaran yang terpisah untuk tiap budaya atau penggunaan satu perencanaan pemasaran yang bisa diimplementasikan dalam tiap daerah/negara. Mengadaptasi budaya dari budaya lokal juga merupakan salah satu cara yang bisa dipertimbangkan.

    Saat ini makin banyak konsumen yang dapat menerima barang dan gaya hidup yang digunakan oleh orang yang berada dalam belahan dunia yang lain. Mereka mempunyai peluang untuk mengadopsi produk dan praktik yang berbeda. Tingkat penerimaan seseorang terhadap budaya yang berbeda juga tergantung dari inisiatif konsumen itu sendiri, pengalaman mereka mempengaruhi sikap mereka dalam menerima produk yang berasal dari negara lain. Analisis konsumen lintas budaya didefinisikan sebagai dorongan untuk mengenali persamaan atau perbedaan apa yang terkandung antara konsumen di dua atau lebih negara. Tujuan utama dari analisis konsumen lintas budaya adalah untuk melihat bagaimana persamaan konsumen dalam dua atau lebih masyarakat, dan bagaimana perbedaan mereka.

    Pengaruh lintas budaya dan subbudaya dapat berpengaruh terhadap strategi pemasaran, yang akan dibahas dalam bagian ini lebih pada strategi segmentasi dan 4P. Khusus terhadap 4P diharapkan dapat diambil dari pelajaran-pelajaran yang ada dalam kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi, misalnya dalam mendefinisikan produk, promosi, dan penetapan harga.

    Konsep Dasar Pengambilan Keputusan Konsumen

    Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, seorang konsumen harus memilih produk dan/atau jasa yang akan dikonsumsinya. Banyaknya pilihan yang tersedia, kondisi yang dihadapi, serta pertimbangan-pertimbangan yang mendasari akan membuat pengambilan keputusan satu individu berbeda dari individu lainnya. Pada saat seorang konsumen baru akan melakukan pembelian yang pertama kali akan suatu produk, pertimbangan yang akan mendasarinya akan berbeda dari pembelian yang telah berulang kali dilakukan. Pertimbangan-pertimbangan ini dapat diolah oleh konsumen dari sudut pandang ekonomi, hubungannya dengan orang lain sebagai dampak dari hubungan sosial, hasil analisa kognitif yang rasional ataupun lebih kepada ketidakpastian emosi (unsure emosional). Schiffman dan Kanuk (2004) menggambarkan bahwa pada saat mengambil keputusan, semua pertimbangan ini akan dialami oleh konsumen walaupun perannya akan berbeda-beda di setiap individu

    Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

    Proses pengambilan keputusan diawali dengan adanya kebutuhan yang berusaha untuk dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan ini terkait dengan beberapa alternatif sehingga perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk memperoleh alternatif terbaik dari persepsi konsumen. Di dalam proses membandingkan ini konsumen memerlukan informasi yang jumlah dan tingkat kepentingannya tergantung dari kebutuhan konsumen serta situasi yang dihadapinya.

    Keputusan pembelian akan dilakukan dengan menggunakan kaidah menyeimbangkan sisi positif dengan sisi negatif suatu merek (compensatory decision rule) ataupun mencari solusi terbaik dari perspektif konsumen (non-compensatory decision rule), yang setelah konsumsi akan dievaluasi kembali.

    Model Pengambilan Keputusan Konsumen

    Model-model pengambilan keputusan telah dikembangkan oleh beberapa ahli untuk memahami bagaimana seorang konsumen mengambil keputusan pembelian. Model-model pengambilan keputusan kontemporer ini menekankan kepada aktor yang berperan pada pengambilan keputusan yaitu konsumen, serta lebih mempertimbangkan aspek psikologi dan sosial individu.

    Konsumerisme

    Konsumerisme adalah suatu gerakan sosial yang dilakukan oleh berbagai pihak yang bertujuan untuk meningkatkan posisi konsumen dalam berinteraksi dengan pihak penjual, baik sebelum, pada saat, dan setelah konsumsi dilakukan. Konsumen perlu mengetahui hak-haknya secara jelas sehingga apabila terjadi ketidaksesuaian yang dirasakan pada tiga fase tersebut, konsumen akan dapat mengidentifikasi letak ketidaksesuaiannya, di mana karena sumber permasalahan dapat berasal dari kecerobohan konsumen itu sendiri.

    Perkembangan teknologi informasi dan era perdagangan bebas memunculkan masalah konsumerisme baru yang harus diwaspadai oleh berbagai pihak sehingga dapat mencegah dampak yang merusak bagi konsumen

    Model dan Penelitian terhadap Perilaku Konsumen

    Dalam usaha untuk lebih memahami perilaku konsumen, seorang pemasar akan melakukan penelitian yang terkait dengan konsumen dan produk yang dipasarkan. Penelitian ini dilakukan dalam upaya untuk mengumpulkan informasi mengenai karakteristik perilaku konsumen sehingga seorang pemasar akan dapat lebih mengenal siapa konsumennya, dan bagaimana perilaku mereka dalam mencari, menggunakan, dan membuang produk. Perilaku konsumen sangat kompleks dan melibatkan banyak variabel dalam analisis sehingga diperlukan model-model perilaku konsumen untuk menyederhanakan gambaran dan keterkaitan antar variabel tersebut dalam perilaku konsumen. Dengan berpedoman kepada model-model perilaku konsumen yang telah ada maka penelitian akan lebih mudah dilakukan karena variabel-variabel terkait sudah teridentifikasi di dalam model-model tersebut.

    Lembaga Perlindungan Konsumen

    Tidak pahamnya konsumen mengenai hak dan kewajibannya sebagai seorang konsumen yang menggunakan barang dan atau jasa yang disediakan oleh pelaku bisnis, sering kali menimbulkan permasalahan yang merugikan konsumen. Kerugian dapat berupa kerugian fisik (kesehatan dan keselamatan) maupun kerugian nonfisik yaitu uang. Sering kali konsumen hanya pasrah setelah menerima perlakuan yang merugikan mereka, yang disebabkan karena mereka tidak tahu bagaimana dan kepada siapa harus mengadukan permasalahannya.

    Perlindungan konsumen ini tertuang dalam Undang-undang No.8 Tahun 1999 yang dikenal dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK), di mana secara jelas diuraikan berbagai hal mengenai hak dan kewajiban konsumen dan pelaku bisnis serta pihak-pihak yang terkait dalam program Perlindungan Konsumen. Salah satu lembaga yang bergerak dalam perlindungan konsumen ini adalah Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang tujuan utamanya adalah untuk membantu konsumen Indonesia agar tidak dirugikan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa.

    Globalisasi dan Perubahan Perilaku Konsumen

    Globalisasi menghilangkan batas-batas negara untuk mengonsumsi suatu produk atau jasa. Teknologi informasi akan memudahkan konsumen untuk memperoleh informasi yang terkait dengan perilaku konsumsi, produk, dan gaya hidup di negara lain dan akan mempengaruhi perilaku konsumsinya sendiri. Teknologi informasi juga mempengaruhi pelaku bisnis dalam hal penyebaran informasi dan melakukan komunikasi dengan konsumen.

    Pada saat seorang konsumen mengambil keputusan pembelian, mereka juga mempertimbangkan negara asal dari merek sebagai bahan evaluasi. Konsumen memiliki sikap, preferensi, dan persepsi tertentu terhadap produk atau jasa yang dihasilkan suatu negara. Efek negara asal ini mempengaruhi bagaimana konsumen menilai kualitas dan pilihan mereka terhadap produk yang akan dikonsumsi.

    Sumber buku perilaku konsumen karya Tengku Ezni Balqiah